Feeds:
Tulisan
Komentar

Perusahaan Pers terbesar di Dunia Assocaited Press mulai melarang akses atas content-nya oleh masyarakat bila mereka belum membayar langganan buanannya. AP mengeluh karena banyak perusahaan lain yang mengeduk untung besar dengan menyebarkan content miliknya yang gratis. Oleh karena itu mulai sekarang AP akan mengharuskan para pelanggannya untuk membiayar biaya keanggotaan sebelum mereka dapat men-dowbload content.

Kebijakan ini bila di-ikuti oleh berbagai penyedia berita lainnya akan menyebabkan konsep bisnis Web 2.0 akan berakhir. Tentu saja di Era Masyarakat Informasi, akan terjadi penyesuaian-penyesuaian bisnis proses agar terjadi keseimbangan baru. Salah satunya adalah akan terjadi model bisnis baru, dimana akan muncul Agregator Berita baru dimana Ia akan memperoleh berita-berita secara gratis dari para Blogger yang tersebar diseluruh dunia, sehingga dapat dimanfaatkan oleh para pencari berita yang memerlukan.

Berikut ini kami lampirkan berita lengkap tentan Associated Press sebagai berikut:

The End of the Web 2.0 Free-for-All

“The latest moves by the Associated Press toward putting a stranglehold on its content online, making it unavailable to other online publications who aren’t paying for it, signals the impending end to the free-for-all that’s defined Web 2.0.”

The backstory is that for months the AP — a cooperative with more than 1,400 U.S. newspaper members — has griped that its content is unfairly used online. The first publicized incident occurred in June when the AP sent the Drudge Retort a cease-and-desist letter for excerpting and linking to its content. The debate was heightened this week when in a statement and at its annual meeting the AP affirmed that it will pursue legal action against online publications that use its material without paying for it or at least sharing revenue.

“We can no longer stand by and watch others walk off with our work under some very misguided, unfounded legal theories,” said Dean Singleton, AP chairman, in a statement. “We are mad as hell, and we are not going to take it anymore.”

The AP’s issue is with publications that excerpt and link to its content, and with search engines, like Google News, which aggregate news stories that may be using the AP’s content without paying for it.

And while we know it’s hard to take seriously anyone who quotes Network in an annual statement, there’s good reason for concern.

Over the last few days there’s been much back and forth contesting the AP’s argument, with Google saying its search engine is good for news organizations, The New York Times questioning whether Yahoo is more of a friend to AP than Google is, and experts like ThinkerNetter Scott Hilton exploring the legal issues.

But regardless of the finger-pointing, the underlying theme is clear: AP does not want to share its content with those who aren’t paying for it, and that changes things drastically.

The news organization is taking a lot of heat for not playing by the rules of the digital age, but it certainly isn’t alone. YouTube has been dealing with similar anger from the large networks who, oddly enough, don’t want their content stolen and uploaded on its site. Despite our collective delusion, the content of the world does not belong to everyone, and, yes, the people who pay for it do mind when you’re making money on it and they aren’t. Crazy, we know.

AP’s harsh tactics and legal threats are out of step with how the Internet works, which is why this is such a big deal. Most organizations operate under the pretense that excerpting and linking back to content is fair game on the Web.

But, despite our cries, the facts are clear: If organizations like the AP take a stand against this whole free-for-all, where what’s mine is yours and what’s yours is ours, it will signal the end of Web 2.0.

We can stomp our feet as we like and call the AP out of touch, but we can’t shun them completely and think the Web can otherwise survive. Without content from the big guys — the news organizations, the networks — the Web as we’ve come to know it does not exist. The large organizations operate as separate entities, and the underdogs who’ve been making some form of money off of them have to figure out how to stand on their own or share the little revenue they have for access.

When the people providing the content wake up to that fact, as the AP has, and start to pull it out from under the rest of us, that’s when reality will settle in for those whose livelihood and business model rely on its availability.

— Nicole Ferraro, Site Editor, Internet Evolution

(Sumber: Andrian Fauzi – detikinet) Bandung -

Berawal dari keprihatinan terhadap pemanfaatan ICT di Indonesia, khususnya di bidang pendidikan, para pendidik bersatu meneriakkan ICT Merdeka. Saatnya menjadi pencipta, bukan sekadar pemakai! Seperti yang dikatakan oleh Dr. Munir, M.IT, Direktur, Direktorat TIK Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) kepada detikINET di Kampus UPI, Jalan Setiabudhi.

Menurutnya, sudah saatnya ICT bisa merdeka di Indonesia dan hanya dengan open source dan open konten, ICT bisa merdeka. “Karakteristik ICT menciptakan kita menjadi merdeka dalam menjaring informasi. Baik ilmu pengetahuan, sosial, budaya dan berbagai informasi lain yang serba ada. Apapun informasinya kita bisa dapatkan di internet. Namun, kemerdekaan itu masih dalam tahap penerima dan pengguna,” ujarnya. Dorongan penggunaan open source, imbuhnya, digagas oleh Kementerian Negara Riset dan Teknologi dan Depkominfo serta difasilitasi oleh Telkom dengan program INDIGO-nya.

UPI menyadari akan peran dan kiprahnya dalam dunia pendidikan terutama dalam penyedia tenaga kependidikan cukup besar. Itulah kenapa UPI berniat merangkul Lembaga Pendidikan Tenaga Keguruan (LPTK) atau eks IKIP di seluruh Indonesia untuk mendeklarasikan ICT Merdeka. “Tanggal 16 Desember 2008 di Hotel Sari Pan Pasifik ditandatangani MoU antara Kementerian Negara Riset dan Teknologi, PT Telkom Indonesia dan UPI untuk mengadakan aktivitas ICT Merdeka dengan salah satu fokusnya adalah pendayagunaan open source dan open konten,” papar Munir.

Rencana dan strategi pun dilancarkan oleh UPI. Diawali dengan seminar ICT Merdeka beberapa waktu lalu, UPI mengajak penggiat IT, terutama bidang pendidikan, membangun komitmen bersama memanfaatkan open source dan mengembangkan konten digital dalam bidang pendidikan. “Kemarin kita memang berencana untuk mendeklarasikan ICT Merdeka. Namun baru ada 5 LPTK, jadi masih dikonsep dulu. Namun pada dasarnya akan didorong lembaga pendidikan kepada open source dan open konten. Kita masih terima masukan dari yang lainnya,” ungkap Munir.

Menurut Munir, deklarasi ICT Merdeka lahir untuk memerdekakan dari penerima informasi menjadi pemberi informasi dan dari pengguna software menjadi pencipta dalam pengembangan software. ( afz / faw )

1. Larry Page dan Sergey Brin
Menemukan Google pada tahun 1998 ketika mereka baru berusia 24 tahun. Mulai di dalam garasi yang menjadi “kantor” pertama mereka, dua orang ini mengilhami ribuan anak muda untuk mencari uang online. Larry dan Sergey kemudian menciptakan perusahaan senilai satu multi milyar dollar yang mengguncangkan Internet.

2. Mark Zuckerberg
Mark Zuckerberg, mahasiswa universitas Harvard yang menemukan Facebook sebagai satu platform jaringan sosial bagi remaja di perguruan tinggi ketika dia baru berusia 19 tahun. Facebook kini merupakan situs web jaringan sosial terbesar kedua setelah MySpace. Facebook terus tumbuh hari demi hari, dengan jutaan pengguna baru yang terus mendaftar setiap bulan!

3. Steve Chen dan Chad Hurley
Para pencipta dari situs web “berbagi video online”, YouTube.. Mereka mendirikan YouTube pada 2005 ketika Chad berusia 28 tahun dan Steve 27 tahun YouTube kemudian diakuisisi oleh Google dengan nilai $1.65 milyar.

4. Jerry Yang dan David Filo
Di tahun 1995 kedua orang ini menemukan Yahoo!, mesin pencari yang merupakan saingan terdekat Google. Jerry berusia 26 tahun dan David Filo 28 tahun ketika mereka menciptakan Yahoo! Kedua orang ini sekarang mungkin lagi hangat-hangatnya dibicarakan orang-orang, setelah Microsoft meluncurkan tawaran senilai US$44.6 milyar untuk mengambil alih Yahoo!

5. Matt Mullenweg
Matt Mullenweg baru berusia 19 tahun ketika ia menciptakan platform blogging yang kini dipakai dimana-mana. Ia mendirikan platform blogging WordPress pada tahun 2005, dan sejak itu blogosphere pun mulai berevolusi. Orang-orang mulai berpindah dari MovableType dan platform lainnya ke WordPress, karena platform baru ini memang mudah dipakai dan selalu diperbaharui dan terus meningkat.

6. Tom Anderson
Menciptakan jaringan sosial #1 di dunia dengan lebih dari 100 juta pengguna, Tom Anderson mendirikan MySpace di tahun 2004 ketika ia baru berusia 23 tahun. Dia mungkin tidak sekaya Mark Zuckerberg, tapi ia tercatat sebagai pendiri dari jaringan sosial yang dipakai paling luas di Internet.

7. Blake Ross
Pada tahun 2003, Blake Ross mendirikan Mozilla ketika dia baru berusia 19 tahun. Sejak itu, Mozilla tumbuh sangat pesat, menggoda pengguna Internet untuk memakai penjelajah Firefox Mozilla mereka sendiri, yang terbukti memang lebih mudah dioperasikan dibandingkan kebanyakan aplikasi penjelajah web lainnya.

8. Pierre Omidyar
Pada tahun 1995 ketika ia baru berusia 28 tahun, Pierre Omidyar mendirikan eBay, lelangan online sedunia. Sejak itu, banyak orang-orang menghargai penemuannya, sehingga mendorong eBay menjadi platform dunia..

Kapan ada Pemuda/Pemudi Indonesia yang bisa merubah Dunia?

Rakasa Mesin Pencari Google.com mulai saat ini akan menggunakan sistem pelacak aktivitas pengguna Browsers sehingga memungkinkan pelanggan Adsense-nya melakukan Advertising yang terarah untuk meningkatkan kemungkinan Iklan Online yang mereka tawarkan lebih dimiati para pengguna Browser di dunia maya.

Ini adalah teknologi baru yang mungkin bisa merubah peta kompetisi Iklan Online, apalagi kita tahu bahwa Google adalah Raksasa Mesin Pencari Info dunia. Ada kemungkinan Regulator akan melihat hal ini, apakah ini menayalahi peraturan Persaingan Bebas di tiap negara.

Berita lengkapnya ada dibawah ini:

Mar 12, 2009
telecomasia.net
Google will begin tracking users’ interests and shopping in an effort to allow its AdSense customers to provide targeted advertising.

But the privacy implications of the new system look set to draw the interest of privacy advocates and legislators.

The new feature, which Google calls interest-based advertising, will track users’ web browsing and shopping habits and build a group categories of interests based on this history, the search firm said.

To assuage the privacy concerns, Google offers the ability to opt out. The opt out information is stored on a cookie which will be cleared if the cookie is deleted.

Users also will be able to edit the categories of interest associated with their browsers via the new ads preferences manager.

Google has pledged to be transparent in regards to how it collects and uses the information collected.

All Things Digital columnist Peter Kafka believes the move will make Google a target of US congressman Rick Boucher, chair of the house communications subcommittee, who has already called on congress to regulate the practice of interest-based advertising.

Matt Mullenweg si pencipta WordPress

Matt Mullenweg si pencipta WordPress

Matt Mullenweg adalah seorang anak muda yang kreatif, innovatif dan ulet dalam membangun masa depannya. Ia adalah seorang pemuda yang amat sederhana, walaupun Ia telah berhasil meraih sukses besar dalam mengembangkan mesin Blog WordPress yang Ia buat sebagai aplikasi Open Source yang gratis untuk dipakai siapa saja.

Berikut ini adalah wawancara Matt Mullenweg oleh wartawan Kompas Pepih Nugraha saat Ia menghadiri acara WordPress WordCamp selama dua hari, tanggal 17-18 Januari 2009 yang lalu di Jakarta.:

”Matt, apa rencanamu ke depan setelah berhasil merintis dan menciptakan WordPress yang belakangan dikenal luas di kalangan blogger di seluruh dunia?” Itu pertanyaan sederhana yang diajukan kepada seorang pemuda asal Amerika Serikat. Matt tak kalah sederhananya dalam menjawab, ”Menikah dan punya anak.”

Rendah hati, tenang, berbicara pelan, tidak basa-basi. Itulah Matt Mullenweg. Di kalangan blogger dunia, Matt, panggilannya, adalah ”malaikat” yang teramat baik hati karena mau menggratiskan mesin blog kepada siapa pun yang mau mengambilnya di WordPress.

Oleh karena gratis dan berbasis open source, banyak sukarelawan yang terus membangun dan memperbaiki tampilan WordPress. Mulai dari cangkang atau themes blog yang beraneka ragam, sampai widget khusus untuk menghitung banyaknya pengunjung yang masuk.

WordPress dikenal sebagai penyedia blog paling progresif belakangan ini yang bisa dipadankan dengan situs pertemanan, Facebook. Hingga tahun 2008, tercatat 230 juta pengakses tetap (unique visitors) dengan 6,5 miliar halaman WordPress yang dilihat. Ada 35 juta posting baru dengan tambahan rata-rata empat juta posting setiap bulan. Data itu cukup menggambarkan betapa progresifnya WordPress.

Keberadaan Matt Mullenweg di Jakarta hanya dua hari, pada 17-18 Januari, saat ia menjadi pembicara pada WordCamp yang di Asia Tenggara baru Filipina dan Indonesia (Jakarta) yang mengadakannya.

Ini ajang berkumpulnya pengguna, penyuka, dan pengembang WordPress di Tanah Air sehingga komunitas Blogger Anging Mammiri dari Makassar pun memerlukan datang. Di seluruh dunia, total sudah 29 kali WordCamp diselenggarakan, mulai Afrika sampai Australia dengan kehadiran 3.400 anggota.

Di Jakarta, WordCamp yang bertema ”Learn from the Best” dan berlangsung di Erasmus Huis itu terselenggara berkat prakarsa seorang penggila WordPress, Valent Mustamin. Selama dua hari itulah Kompas menguntit dan menangkap Matt yang sangat santun.

Untuk ukuran perintis sebuah mesin penghasil blog yang mewabah di seluruh dunia, usia Matt juga masih tergolong sangat muda, 25 tahun.

Pendidikan politik

Di dunia maya tidak banyak penyedia blog gratisan. Kalau Anda ingin memiliki blog atau situs pribadi, Anda bisa mengambil dari Blogger, Multiply, LiveJournal, MoveableType, TypePad, dan salah satunya dari WordPress yang disediakan Matt.

Bernama lengkap Matthew Charles Mullenweg, ia lahir di Houston, Texas, 25 tahun lalu. Matt pernah bekerja di perusahaan media berbasis internet, CNET, sebelum mengembangkan dan merintis perangkat lunak open source untuk nge-blog.

Lalu, dari mana dia mendapatkan uang dengan menciptakan peranti lunak open source semacam WordPress? Matt menjawab, ”Saya tidak mencari uang dari situ.”

Pun ia menampik kalau suatu saat WordPress akan dijualnya kepada perusahaan raksasa internet dengan harga selangit, seperti halnya Blogger atau YouTube, situs video terpopuler berbasis user generated content yang dimiliki Google.

Matt tidak menyangkal kalau ia memperoleh pendapatan dengan mendirikan perusahaan di balik WordPress, seperti Automattic, Akismet, Gravatar, bbPress, IntenseDebate, dan BuddyPress.

”Jangan selalu beranggapan bahwa uang adalah segala-galanya,” kata Matt tentang sikap berbaginya yang melabrak batas negara dunia itu.

Untuk seorang entrepreneur muda dan sukses, penampilan Matt relatif sederhana, celana jins dan kaus oblong yang dibungkus kemeja. Dia suka menjinjing tas dan iPhone bercangkang huruf ”W” sebagai kependekan dari WordPress.

Uniknya, latar belakang Matt bukan ilmu komputer atau teknologi informasi, melainkan ilmu politik. Ia menimba ilmu itu selama dua tahun di sebuah college sebelum akhirnya berhenti karena membangun infrastruktur sebuah mesin online yang menyita banyak waktu. Beruntung Matt mendapat dorongan penuh kedua orangtuanya.

”Mereka tahunya saya orang di balik WordPress,” katanya.

Bukan jurnalis

Matt mengenang kembali masa-masa di tahun 2002 saat untuk pertama kalinya menciptakan peranti lunak sederhana untuk nge-blog yang ia namakan b2. Keperluannya hanya sebatas memajang hasil foto dia di media online saat berkunjung ke Washington DC.

Maklum, waktu itu perangkat lunak untuk keperluan nge-blog belum mewabah. Dari kode sederhana b2, Matt bersama dua rekannya, Mike Little dan Michel Valdrighi, mulai membangun WordPress.

Adakah Matt berlatar belakang jurnalis atau media sehingga penyedia blog gratisan itu menggunakan embel-embel ”Press”? Matt mengatakan, ”Tidak ada sama sekali.” Menurut dia, nama itu diberikan oleh seorang teman, Christine. ”Itulah yang saya ingat,” jawabnya.

Matt juga bercerita bagaimana semasa bersekolah di SMU ia merancang dan membuatkan sebuah situs untuk sekolah itu. Ia juga membuat situs untuk grup jazz lokal di kota kelahirannya, Houston. Kemahirannya merancang web juga didukung oleh ayahnya yang bekerja di Microsoft. Matt mengaku pernah jatuh-bangun merancang WordPress, tetapi ia terus mencoba lagi.

Untuk urusan jazz, Matt boleh dibilang serius menekuninya. Apalagi ia pemain saksofon yang andal. Untuk keterampilan bermusiknya itu, dia memerlukan belajar di sebuah sekolah seni. Bahkan yang tidak banyak diketahui banyak orang, Matt adalah pemain keyboard dvorak, yakni alat musik seperti piano yang tuts-tutsnya mengadopsi papan ketik komputer ”QWERTY”.

Matt baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-25 pada 11 Januari lalu. Salah satu rencana yang menurut dia harus direalisasikan segera adalah belajar bahasa Spanyol.

Mengapa bahasa Spanyol yang mau dipelajarinya? ”Spanyol adalah bahasa terbesar kedua pengguna WordPress setelah bahasa Inggris,” katanya.

Cukup mengejutkan bila Matt mengungkapkan bahwa bahasa ketiga terbesar pengguna WordPress adalah bahasa Indonesia. Situs Alexa mencatat, 280.000 blog WordPress menggunakan bahasa Indonesia.

”Saya menaruh hormat, dan untuk alasan itulah saya ada di Jakarta,” ujar Matt.

OSS pilihan DEPHAN AS

OSS pilihan DEPHAN AS

Undang-Undang Anggaran 2009 Dept. Pertahanan Amerika Serikat telah memutuskan untuk melakukan penghematan biaya pemanfaatan Teknologi Informasi pada tahun 2009 melalui penggunaan Software-software Open Source dan sekaligus juga untuk meningkatkan keamanan Sistem Informasi. Hal ini telah menjadi keputusan Pemerintah AS melalui: National Defense Authorization Act for Fiscal Year 2009 (H.R. 5658) pada bulan September 2008 yang lalu.

Keputusan ini adalah untuk pertamakalinya dilakukan di Pemerintahan AS untuk menggunakan software Open Source secara umum untuk berbagai aplikasi internal Departemen Pertahanan AS melalui sebuah UU Anggaran Biaya. Di Brazil, Negara-negara Amerika Latin, dan Uni Eropa, penggunaan software Open Source telah lama ditetapkan sebagai pilihan utama bagi pemanfaatan aplikasi-aplikasi Teknologi Informasi di Pemerintahan.

Indonesia juga tidak ketinggalan dalam pemanfaatan software Open Source dengan telah disepakatinya Kerjasama Pemanfaatan Open Source bagi 18 Departemen Pemerintahan RI pada akhir bulan Mei 2008, saat berakhirnya IGOS Summit-II (Indonesia Go Open Source). Penggunaannya yang telah mulai dilaksanakan adalah untuk aplikasi perkantoran (Open Office), e-Government, e-Procurement, e-Learning dan aplikasi lainnya.

Dalam mencapai keputusannya, Komisi DPR AS memberikan alasan bahwa penggunaan software Ope Source secara umum dapat memberikan penghematan biaya yang subtansial ditengan makin kompleks-nya Sistem Informasi Proprietary yang dipergunankan sehingga menimbulkan kerawanan terhadap serangan hackers dan para pembobol keamanan Sistem Informasi lainnya. Software Open Source juga terbukti memberikan keamanan Sistem Informasi yang lebih baik dari pada software Proprietary, yang dihasilkan dari sistem yang lebih handal dan minimnya serangan gangguan keamanan terhadap sistem Open Source.

Dengan masih berlangsungnya Krisis Finansial Global sejak Oktober 2008 yang lalu, maka keputusan DEPHAN AS itu merupakan keputusan yang tepat, sebab dapat memberikan solusi bagi pengurangan biaya-biaya Pemerintahan Amerika Serikat. Hal yang sama juga berlaku bagi Pemerintahan negara-negara lainnya, termasuk Indonesia, serta Perusahaan-perusahaan Swasta, UKMK, serta individu anggota masyarakat.

Bagi negara berkembang seperti Indonesia, penggunaan Open Source juga akan dapat menghemat Devisa Nasional yang langka, melepaskan diri dari ketergantungan asing, meningkatkan kemampuan sumber daya manusia Indonesia, meningkatkan pemerataan penghasilan bagi masyarakat luas dan mensejahterakan bangsa.

Silahkan ditanggapi.
——————————————————
Referensi Berita: CNET

As Government Computer News reports, the U.S Department of Defense has singled out open staukanhanan ource in the National Defense Authorization Act for Fiscal Year 2009 (H.R. 5658). The gist? The Defense Department sees open source as a way to cut costs and boost security, and it wants more of it.

While open source has attained legislative approbation in Latin America and elsewhere, this is first time I can remember seeing it in a Congressional bill.

Currently, the open-source language is focused on aerial vehicles, but it’s instructive all the same:

The committee is concerned by the rising costs and decreasing security associated with software development for information technology systems. These rising costs are linked to the increasing complexity of software, which has also resulted in increasing numbers of system vulnerabilities that might be exploited by malicious hackers and potential adversaries. The committee encourages the department to rely more broadly on (open-source software) and establish it as a standard for intra-department software development.

If you’re an open-source project lead or commercial vendor, this language is a step in the right direction. If you’re a proprietary-software vendor, well, perhaps you side with the Business Software Alliance (funded by Microsoft and others), which has been lobbying hard against the bill.

I don’t personally feel that open source needs to be legislated to be adopted. Indeed, I’m aware of widespread adoption of open source within the Department of Defense already, commercial and otherwise. Perhaps this legislative action will accelerate adoption further, but again, I’m not sure that open source needs any assistance here. The cream has a way of rising to the top, and open source keeps rising.

Perhaps someone needs to introduce a bill to handicap open source’s rise in order to help out those starving proprietary vendors? :-) (Source: Matt Asay – CNET)

Zaman Keemasan Microsof sebagai sebuah kekuatan yang tak terbendungkan telah lampau. Raksasa Software Dunia ini mengumumkan PHK 5.000 karyawannya oleh karena makin menurunnya pendapatan Microsoft, salah satu penyebabnya adalah Krisis Finansial AS dan Global yang ikut menggerus penghasilannya. Ini merupakan PHK terbesar dalam 33-tahun sejarah Microsoft.

Walaupun pendapatannya mencapai US$4,2 Milyar pada kwartal-4/2008, turun 11%, dampaknya adalah penurunan Kapitalisasi saham MS sampai sebesar US$14 Milyar.

Penjualan Operating System Windows menurun sebesar 8% tahun 2008. Produk Windows Vista banyak menemui hambatan, sehingga Microsoft terpaksa mengeluarkan rilis baru Windows 7 yang masih dalam tahap pengembangan.

Penyebab lainnya adalah karena tidak fokus dalam bidang core-business-nya, Upaya-upaya dalam menambah revenue produk-produk sampingan seperti software video games, music player dan search engine tidak banyak membuahkan hasil. Pangsa pasar search engine microsoft MSN tidak lebih besar dari 10% dunia. Upayanya untuk membeli mesin pencari Yahoo! tahun lalu gagal. Upayanya untuk mengembangkan game console Xbox baru mulai breakeven setelah 7 tahun operasi. Perangkat music playernya “Zune” mengalami banyak masalah/bugs.

Sementara itu core-business Microsoft mengalami tekanan dari banyak perusahaan berbasiskan Open Source, seperti Google dan Sun Microsystems yang memberikan layanan software yang cost-efficient, seperti Google Desktop, Open Office, dll, dan dengan makin majunya teknologi Cloud Computing, maka layanan-layanan tersebut dapat dengan mudah diperoleh melalui jaringan Internet.

Operating System MS Windows mendapat pesaingan yang kuat dari Distro-distro Linux yang makin canggih dan berisikan pula software-softeware aplikasi yang lengkap, bukan hanya sekadar Operating System kosong. Yang menonjol adalah Distro Ubuntu, Red Hat, Fedora, OpenSUSE, dan Mandriva yang mendapat dukungan kuat dari komunitas Open Source lokal dan Dunia.

————————————

Sumber Berita: Jeff Segal (http://wartaaosi.blogspot.com)

Presiden AS ke-44 Barack Obama memang benar-benar akan mebuat perobahan yang cukup berarti, baik dilingkungan domestik Amerika Serikat, maupun dilingkup dunia. Pelantikannya sebagai Presiden AS ke-44 telah menyebabkan meningkatnya traffic yang tertinggi sampai dengan saat ini baik di Internet maupun di jaringan layanan bergerak (mobile).

Streaming Video yang memuat berita pelantikan Obama pada hari Selasa 20 Januari 2008 telah menyebabkan peningkatan penyaluran Streaming Video sampai kepada puncaknya sebesar 7 juta streams secara bersamaan, naik 7 kali lipat dari arus video stream pada hari-hari biasa, sebagaimana dicatat pada situs penyedia content Akmai.

Di Web, ada sebanyak 5,7 juta akses pencarian berita tentang pelantikan Obama, dari laporan sistem analis Web analytics.

Di Situs Social Networking Twitter terjadi kenaikan messaging sampai 5 kali lipat, sehingga menyebabkan keterlambatan pengiriman selama 5-menit per berita.

Facebook mencatat sejumlah 4.000 status update per menit selama broadcast pelantikan, dan meningkat lagi menjadi 8.500 update per menit saat Obama berpidato. Total keseluruhan update adalah sebanyak 1,5 juta pada hari pelantikan Obama itu.

Berbagai Situs kantor berita seperti ABC, CBS dan NBS serta situs berita Whitehouse mengalami penundaan yang cukup berarti.

Pada hari Selasa itu juga, CNN telah mengirimkan berita streaming video sebanyak 27 juta kali.

Kantor Berita Xinhua dari RCC menghapus kata “communism” dari kalimat Obama sbb: “recall that earlier generations faced down fascism and communism not just with missiles and tanks, but with sturdy alliances and enduring convictions.”

Xinhua juga menghapus kalimat Obama sbb: “to those who cling to power through corruption and deceit and the silencing of dissent, know that you are on the wrong side of history.”

Namun teks lengkap pidato Obama dalam bahasa Inggris tidak diubah.

(sumber: teleomnetasia.net)

Berikut ini adalah informasi hasil Pertemuan Round Table Discussion tentang WiMAX yang diselenggarakan di MASTEL pada tanggal 18 Desember 2008, dimana hal-hal yang relevant dengan kebijakan WiMAX di Indonesia sebagaimana diuraikan dibawah ini:

1. Isyu Regulasi WiMAX dan Industri Dalam Negeri:

  • Ditetapkan Channel Size yang Unique yaitu 3,5 MHZ/7Mhz
  • Ukuran ChannSel Size ini hanya didukung oleh Standar lama 802.16d, sehingga akan lebih mahal dari Subset Standar baru 802.16e.
  • Dengan spesifikasi yang Unique tersebut diatas, maka Indonesia akan mengalami keterbatasan supply global komponen2 WiMAX dan kurang dapat memanfaatkan keuntungan produksi massal dunia (large scale pricing)
  • Harga CPE dan Dongle ber-standar 802.16e adalah sekitar US$ 50-70, sedangkan Standar 802.16d harganya sekitar US$200-300.- (lebih mahal)

2.  Besarnya Lebar Pita per Operator:

  • Bila kurang dari 30 MHz, maka akan terkena permasalahan Scalability, Breakeven NPV Investasi akan memakan waktu yang lebih lama.

3.  Issyue Nationwide vs Regional:

  • Regional: Terlalu banyaknya Operator akan menimbulkan meningkatnya CAPEX dan OPEX Total untuk seluruh Indonesia.
  • Sebagai contoh di Jepang, hanya ada 2 Nationwide Operator dan 1-Regional Operator.

Mudah2an informasi ini dapat dimanfaatkan oleh Regulator dan para Operator atau Calon Operator WiMAX di Indonesai, untuk menetapkan kebijakan jangka panjang yang menguntungkan bangsa dan negara, serta hasilnya dapat dinikmati baik oleh para Operator maupun Pemakai Jasa WiMAX (biaya CAPEX dan OPEX yang lebih rendah, tarif yang terjangkau
masyarakat).

Para ahli dari Konsultan GARTNER meramalkan bahwa ada 10 Teknolgi Strategis yang akan mempengaruhi perkembangan di Dunia pada tahun 2009 yaitu:

  1. Virtualisasi
  2. Cloud Computing
  3. Kelanjutan dari Blade Servers
  4. Arsitektur-arsitektur Berbasis Web
  5. Enterprise Mashups
  6. Sistem-sistem Khusus
  7. Sosial Software dan Social Networking
  8. Unified Communications
  9. Business Intelligence
  10. Green IT (energy efficiency dan environmentally friendly)

Teknologi-teknologi tersebut diatas akan mendominasi perkembangan TIK/ICT di tahun 2009. Uraian lengkapnya kami sajikan dibawah ini:

Virtualization

Much of the current buzz is focused on server virtualization, but virtualization in storage and client devices is also moving rapidly. Virtualization to eliminate duplicate copies of data on the real storage devices while maintaining the illusion to the accessing systems that the files are as originally stored (data deduplication) can significantly decrease the cost of storage devices and media to hold information. Hosted virtual images deliver a near-identical result to blade-based PCs. But, instead of the motherboard function being located in the data center as hardware, it is located there as a virtual machine bubble. However, despite ambitious deployment plans from many organizations, deployments of hosted virtual desktop capabilities will be adopted by fewer than 40% of target users by 2010.

Cloud computing

Cloud computing providers deliver a variety of IT-enabled capabilities to consumers. They key characteristics of cloud computing are 1) delivery of capabilities “as a service,” 2) delivery of services in a highly scalable and elastic fashion, 3) using Internet technologies and techniques to develop and deliver the services, and 4) designing for delivery to external customers. Although cost is a potential benefit for small companies, the biggest benefits are the built-in elasticity and scalability, which not only reduce barriers to entry, but also enable these companies to grow quickly. As certain IT functions are industrializing and becoming less customized, there are more possibilities for larger organizations to benefit from cloud computing.

Servers — beyond blades.

Servers are evolving beyond the blade server stage that exists today. This evolution will simplify the provisioning of capacity to meet growing needs. The organization tracks the various resource types, for example, memory, separately and replenishes only the type that is in short supply. This eliminates the need to pay for all three resource types to upgrade capacity. It also simplifies the inventory of systems, eliminating the need to track and purchase various sizes and configurations. The result will be higher utilization because of lessened “waste” of resources that are in the wrong configuration or that come along with the needed processors and memory in a fixed bundle.

Web-oriented architectures.

The internet is arguably the best example of an agile, interoperable and scalable service-oriented environment in existence. This level of flexibility is achieved because of key design principles inherent in the internet/web approach, as well as the emergence of web-centric technologies and standards that promote these principles. The use of web-centric models to build global-class solutions cannot address the full breadth of enterprise computing needs. However, Gartner expects that continued evolution of the web-centric approach will enable its use in an ever-broadening set of enterprise solutions during the next five years.

Enterprise mashups

Enterprises are now investigating taking mashups from cool web hobby to enterprise-class systems to augment their models for delivering and managing applications. Through 2010, the enterprise mashup product environment will experience significant flux and consolidation, and application architects and IT leaders should investigate this growing space for the significant and transformational potential it may offer their enterprises.

Specialized systems

Appliances have been used to accomplish IT purposes, but only with a few classes of function have appliances prevailed. Heterogeneous systems are an emerging trend in high-performance computing to address the requirements of the most demanding workloads, and this approach will eventually reach the general-purpose computing market.

Heterogeneous systems are also specialized systems with the same single-purpose imitations of appliances, but the heterogeneous system is a server system into which the owner installs software to accomplish its function.

Social software and social networking

Social software includes a broad range of technologies, such as social networking, social collaboration, social media and social validation. Organizations should consider adding a social dimension to a conventional web site or application and should adopt a social platform sooner, rather than later, because the greatest risk lies in failure to engage and thereby, being left mute in a dialogue where your voice must be heard.

Unified communications

During the next five years, the number of different communications vendors with which a typical organization works with will be reduced by at least half. This change is driven by increases in the capability of application servers and the general shift of communications applications to common off-the-shelf server and operating systems. As this occurs, formerly distinct markets, each with distinct vendors, converge, resulting in massive consolidation in the communications industry. Organizations must build careful, detailed plans for when each category of communications function is replaced or converged, coupling this step with the prior completion of appropriate administrative team convergence.

Business Intelligence

Business Intelligence (BI), the top technology priority in Gartner’s 2008 CIO survey, can have a direct positive impact on a company’s business performance, dramatically improving its ability to accomplish its mission by making smarter decisions at every level of the business from corporate strategy to operational processes. BI is particularly strategic because it is directed toward business managers and knowledge workers who make up the pool of thinkers and decision makers that are tasked with running, growing and transforming the business. Tools that let these users make faster, better and more-informed decisions are particularly valuable in a difficult business environment.

Green IT

Shifting to more efficient products and approaches can allow for more equipment to fit within an energy footprint, or to fit into a previously filled center. Regulations are multiplying and have the potential to seriously constrain companies in building data centers, as the effect of power grids, carbon emissions from increased use and other environmental impacts are under scrutiny. Organizations should consider regulations and have alternative plans for data center and capacity growth.

Additional comments from Carl Claunch, vice president and distinguished analyst at Gartner, are available on the Gartner YouTube channel at http://www.youtube.com/watch?v=-yglJUxqSCM. Additional videos are available at http://www.youtube.com/gartnervideo.

(Sumber: Telecomnetasia.net, 12 Jan 2009)

Tulisan Sebelumnya »