Feeds:
Pos
Komentar

Tahun 2011 adalah tahun Kelinci Logam yang mau keluar dari lobang persembunyiannya. Maka diramalkan bahwa bisnis yang akan maju di tahun 2011 adalah bisnis yang terkait dengan logam dan api, seperti bisnis emas, bisnis elektronik, ponsel, bisnis otomotif, bisnis industri kreatif, internet, bisnis online, eCommerce dan lain-lain.

Selain dari pada itu, pada tahun 2011 diramalkan pula bisnis yang akan menjamur adalah bisnis makanan dan minuman, karena dimasak pakai api. Ini juga dapat dikaitkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 240-juta orang, yang membutuhkan makanan dan minuman dalam jumlah besar tiap hari.

Namun karena si Kelinci itu masih ada didepan lobangnya, artinya bisnis pada tahun 2011 itu harus dijalankan dengan hati-hati, ibarat kelinci yang akan meninggalkan lobang persembunyiannya, ia harus berhati-hati terhadap berbagai ancaman dari luar lobang persembunyian.

Dengan makin banyaknya socila media yang ada di Internet, maka proses pencarian tenaga ahli melalui media ini menjadi semakin mudah. Social media itu antara lai adalah LinkedIn, AboutUs, dll.

Hal ini akan sangat membantu bagi para Top Executives yg dapat melakukan pencarian Tenaga2 Ahli yang mereka perlukan melalui dunia maya sebelum mereka melakukan interview secara langsung.

Ini sangat membantu menghemat energi dan biaya.
Silahkan ditanggapi dan agar disampaikan pengalaman masing-masing..

JAKARTA: Enam dari 25 penyelenggara jasa Internet (PJI) dinyatakan tidak lolos prakualifikasi proyek Internet perdesaan Desa Pinter.

“Mereka tidak lulus seleksi dokumen,” ujar Gatot S. Dewa Broto, Kepala Pusat Informasi Depkominfo, kepada Bisnis kemarin.

Keenam perusahaan itu adalah PT Cyber Network Indonesia (Mitra), PT Inet Global Indo, PT Nettocyber Indonesia, PT Sejahtera Globalindo, PT Total Info Kharisma, dan PT Core Mediatech.

Gatoto menambahkan ada tiga perusahaan yang dikurangi jumlah paket incarannya karena tidak lulus di paket wilayah tertentu.

“Seperti PT Indointernet yang semula berencana menawar di semua paket berkurang menjadi enam paket saja,” katanya.

Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo) melalui Balai Telekomunikasi dan Informatika Perdesaan (BTIP) Ditjen Postel membagi pengerjaan proyek Desa Pinter dari dana Universal Service Obligation (USO) menjadi 11 paket pekerjaan.

Ada tiga paket favorit peserta, yaitu paket 4 Jawa Barat dan Banten dengan pagu anggaran tahun pertama Rp41,5 miliar, paket 5 Jawa Tengan dan Yogyakarta dengan pagu senilai Rp35,6 miliar, serta paket 7 Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur dengan pagu senilai Rp27,9 miliar.

Sebanyak enam perusahaan dinyatakan tidak lulus mengikuti paket 4, sementara empat perusahaan tidak lulus prakualifikasi di paket 5 dan paket 7.

PT Telkomsel dan PT Indonesia Comnet Plus, yang mendaftarkan diri juga sebagai calon peserta, diketahui telah memenangi hak kontrak sebagai penyedia program USO untuk akses telekomunikasi bagi 31.824 desa atau disebut Desa Berdering. Kedua perusahaan tersebut dinyatakan lulus prakualifikasi di seluruh paket.

Penggunaan Software Sumber Terbuka (Open Source)

Terkait dengan spesifikasi terminal komputer pada proyek Desa Pinter, Depkominfo tidak mewajibkan para pemenang tender untuk menggunakan peranti komputer dengan kandungan konten lokal dan berbasis sistem operasi open source.

Gatot menjelaskan dalam aturan mengenai tender menggunakan dana universal service obligation (USO) yang ditetapkan tidak ada kewajiban tersebut, pengadaan perangkat operasional bergantung pada pemenang tender di setiap paket.

“Kami mewajibkan pemenang menyediakan komputer lengkap minimal satu unit di setiap desa ibu kota kecamatan, tetapi dari siapa vendor dan bagaimana sistem pengadaannya diserahkan kepada pemenang tender,” ujarnya.

Dia menjelaskan besar kemungkinan merek komputer maupun peranti lunak yang ada di dalamnya setiap paket berbeda. Selain itu, para pemenang juga bisa mengadakan peralatan tersebut menggunakan sistem tender atau penunjukan langsung.

Hal ini sedikit bertentangan dengan pernyataan Menkominfo Tifatul Sembiring dalam acara Global Conference Open Source (GCOS) di Jakarta pekan lalu yang berjanji mendorong penggunaan open source di masyarakat. (fita.indah@bisnis.co.id)

Namun dari hasil pembicaraan kami dengan Bapak Santoso Serad, Kepala BTIP Ditjen POSTEL, dijelaskan oleh beliau bahwa untuk pengadaan haedware Komputer diperlukan jaminan dari fabrikan/vendor serta jaminan pemeliharaan selama 4-tahun, sedangkan untuk pengadaan Perangkat Lunak, maka diperlukan Perangkat Lunak yang LEGAL dan support dari Distributor Software serta jaminan pemeliharaan selama 4-tahun.

Menurut pemahaman kami, maka tiap Peserta Tender diperbolehkan untuk menggunakan Perangkat Lunak Sumber Terbuka (Open Source) sebab perangkat lunak jenis ini sudah dikenal sebagai Perangkat Lunak LEGAL berlisensi GPL (General Public License). Distributor atau Distro Perangkat Lunak Sumber Terbuka sudah banyak terdapat di Indonesia yang dibuat oleh anak-anak Bangsa, seperti IGOS Nusantara yang berbasis Distro Fedora dan dikemas kembali oleh Tim Kemetrian Negara  RISTEK, Distro turunan dari Ubuntu yang dikemas oleh para ahli software Indonesia dengan merek Blankon dan Ki Hajar, Distro turunan dari Mandriva dengan merek PC Linux OS dan PC Linux OS-3D (tampilan Desktop 3 Dimensi) yang berbahasa Indonesia dan dijamin BEBAS VIRUS!

Kesimpulannya, para Peserta Tender Internet Pedesaan Desa Pinter akan mendapatkan keunggulan kompetitif bilamana mereka memakai Distro Open Source buatan anak-anak Bangsa tersebut diatas karena mendapat support penuh dan dukungan pemeliharaan yang tak terbatas waktunya, sebab mereka semuanya berdomisil di Indonesia. Keuntungan lainnya adalah terbebas dari gangguan Virus yang biasa menyebar di Sistem Operasi Microsoft Windows, berbahasa Indonesia, tampilan Desktop yang bisa 3 Dimensi (bila dikehendaki), biaya yang kompetitif serta yang lebih penting lagi adalah tidak adanya DEVISA Nasional yang bocor ke Luar Negeri.

Kami harapkan pihat Depkominfo/Ditjen Postel/BTIP bersedia untuk mendukung kesimpulan kami tersebut diatas, sehngga para peserta Tender Internet Pedesaan Desa Pinter mendapat kepastian hukum untuk mengajukan proposal dengan menggunaan Perangkat Lunak Sumber Terbuka (Open Source).

Sebuah riset yang dilakukan oleh Periset CareerBuilder baru-baru ini terhadap 2.600 Manajer HRD tentang dampak penggunaan Jejaring Sosial Internet seperti Facebook, LinkedIn dan Twitter terhadap kemungkinan seseorang diterima atau tidak, telah menghasilkan kesimpulan-kesimpulan sebagai berikut:

1. Persentasi penelitian yang dilakukan oleh Manajer HRD:

  • 45% dari mereka melakukan penelitian Pelamar di Jejearing Sosial Internet
  • 63% data pelamar pekerjaan Teknologi Informasi yang diriset
  • 53% data pelamar pekerjaan Professional dan Bisnis yang diriset

2. Dampak keputusan yang diambil oleh Manajer HRD:

  • 35% pelamar gagal karena mem-posting konten yang negatif atau mengganggu, pornografi, dll
  • 53% Manajer HRD mempertimbangkan kembali keputusannya setelah meneliti data pelamar di Jejaring Sosial
  • 44% pelamar gagal karena tercatat suka minum alkohol dan mengkonsumsi narkoba
  • 35% pelamar gagal karena suka menjelek-jelekkan atasan atau perusahaan yang sebelumnya
  • 14% pelamar gagal karena suka pakai simbol emoticon ketika berkorespondensi

3. Dampak positif bagi pelamar yang sering pakai Jejaring Sosial Internet:

  • 14% pelamar yang diterima karena mem-posting hal-hal yang baik dan positif
  • 50% pelamar yang diterima karena positingnya cocok dengan pekerjaan yang dilamarnya
  • 39% pelamar yang diterima postingnya mendukung kualifikasi professionalnya
  • 38% pelamar yang diterima postingnya dianggap kreatif

Semoga informasi ini bermanfaat bagi kawan-kawan yang sering beraktivitas di Jejaring Sosial Internet.

Dengan sejumlah pengakses sebanyak 45 juta orang per-harinya, maka Twitter memiliki potensi besar layanan iklan melalui media ini. Manajemen Twitter dalam waktu dekat akan memulai layanan iklan di Twitter sebagai opsi terbarunya. Namun perlu diingat bahwa media Twitter memiliki banyak pelanggan yang tak dapat diduga sifatnya, sebab bisa saja posting mereka malah akan merugikan para pemasang iklan itu dengan tanggapan yang negatif terhadap iklan-iklan di Twitter.

Berita lengkapnya ad di bawah ini:

LOS ANGELES (Reuters) – Twitter, the fast-growing microblogging site now seeking ways to make money, expanded its terms for users on Thursday to allow advertisers to reach the Internet site’s more than 45 million monthly visitors.

Twitter, the two-year-old venture capital-backed company that lets people send an unlimited number of 140-character messages, is just now beginning to ramp up efforts to monetize, or gain revenue from, its popular site.

On Thursday, it revised its “terms of service” to specify that it may run ads.

“We leave the door open for advertising. We’d like to keep our options open, as we’ve said before,” founder Biz Stone wrote on Twitter’s official blog. blog.twitter.com/

Advertising revenue is the time-honored way for Web sites to generate revenue while remaining free for consumers.

Explosive growth in social networking is attracting interest: worldwide unique visitors to Twitter’s site reached 44.5 million in June, up 15-fold year-over-year, according to comScore.

Some analysts are skeptical that advertising will catch on in a meaningful way on social networks, arguing that companies are reluctant to juxtapose their brands with unpredictable, and potentially offensive, user-generated content.

Stone himself has said the company was wary of annoying its growing base of users by pummeling them with ads.

But other analysts point out that users of social networking websites tend to spend a lot of time on those sites, providing an attractive platform for advertisers to promote their brands — especially if preferences are tracked.

Twitter kept its new clause on advertising open-ended, and stressed it was subject to change.

“The services may include advertisements, which may be targeted to the content or information on the services, queries made through the services, or other information,” the terms read. “The types and extent of advertising by Twitter on the services are subject to change.”

“In consideration for Twitter granting you access to and use of the services, you agree that Twitter and its third-party providers and partners may place such advertising on the services….”

(Reporting by Edwin Chan; Editing by Gary Hill)

Microsoft delivers a Bing iPhone and Mac software development kit and makes the SDK available for download on the Microsoft CodePlex community development site.

Microsoft has delivered a Bing iPhone and Mac software development kit for download on its CodePlex community development site.

In an Aug. 27 blog post, Kristin Meldahl, a product manager at Microsoft, said Microsoft has released the Bing iPhone and Mac SDK as an open-source project under the MS-PL (Microsoft Public License). Bing is Microsoft’s Web search engine, referred to as a “decision engine” by the company. Meldahl wrote that the Bing iPhone and Mac SDK provides:

·  The ability to easily query Bing from within your Cocoa or Cocoa Touch application.
·   Perform both synchronous and asynchronous queries.

·   Search Bing for Web, Image, Video, News, and Phonebook results.

A description of the SDK on CodePlex said, “The Bing SDK for iPhone and Mac is a Cocoa Framework [that] enables Mac and iPhone developers to easily integrate Bing search results into their applications. The SDK was designed to remove the headache of manually having to parse XML or JSON [JavaScript Object Notation] in order to communicate with the Bing API.”

The new Bing iPhone and Mac solution is essentially an Objective-C/Cocoa wrapper for the Bing API that provides the potential to easily add dynamic search results to applications.

“We hope that you’ll be able to make some great Cocoa/iPhone apps that harness the power of Bing,” the blog post said, signed with the names of Tom Rudick, program manager intern for the Bing API, and Alessandro Catorcini, lead program manager for the Bing API. (source: eWeek)

Satu orang Amerika, Albert Gonzales dari Miami, Florida, USA dan dua orang Rusia yang belum ditemukan telah ditetapkan sebagai tersangka pencurian Identitas terbesar dalam sejarah dunia, dengan mencuri nomor-nomor kartu kredit melalui jaringan-jaringan Sistem Pembayaran Hartland, Princeton, NJ.; supermarket 7-Eleven.; supermarket regional Hannaford Brothers; dan dua lagi jaringan retailers AS.

Pencurian Identitas ini dilakukan oleh Gonzales, mantan Investigator Federal AS, menggunakan injeksi database SQL yang banyak digunakan di Server Web diseluruh dunia.

Oleh karena itu agar kita semua berhati-hati dalam melakukan transaksi elektronik melalui jaringan Internet, agar tidak dirugikan oleh para Penjahat Dunia Maya. Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik No. 11/2008 (UU ITE) pada awalnya memang dibuat untuk melindung masyarakat Indonesia dari kejahatan transaksi elektronik di dunia maya seperti ini, dan bukan untuk urusan pencemaran nama baik seperti yang sedang diperkarakan antara Prita dan RS OMNI.

Berita lengkapnya dapat dibaca dibawah ini:

SAN FRANCISCO — The man who prosecutors said had masterminded some of the most brazen thefts of credit and debit card numbers in history was charged on Monday with an even larger set of digital break-ins.

In an indictment, the Justice Department said that Albert Gonzalez, 28, of Miami and two unnamed Russian conspirators made off with more than 130 million credit and debit card numbers from late 2006 to early 2008.

Prosecutors called it the largest case of computer crime and identity theft ever prosecuted. According to the government, the culprits infiltrated the computer networks of Heartland Payment Systems, a payment processor in Princeton, N.J.; 7-Eleven Inc.; Hannaford Brothers, a regional supermarket chain; and two unnamed national retailers.

An unspecified portion of the stolen credit and debit card numbers were then sold online, and some were used to make unauthorized purchases and withdrawals from banks, according to the indictment, which was filed in United States District Court in Newark.

Although some states require card issuers to notify customers about security breaches, it is unclear whether all individuals whose card numbers were stolen in this case have been notified and offered new account numbers.

Mr. Gonzalez has been in custody since May 2008, when he was arrested in connection with another prominent data theft at the Dave & Buster’s restaurant chain. He has also been indicted in other thefts of credit and debt cards, including the 2005 data breach at T. J. Maxx stores, a division of TJX, based in Framingham, Mass.

Mr. Gonzalez is awaiting a trial in New York in the Dave & Buster’s attack and, separately, another in Massachusetts in the TJX breach. Trials on the charges announced on Monday will have to wait until those cases are completed, federal prosecutors said.

Mr. Gonzalez’s lawyer, Rene Palomino Jr., did not respond to requests for comment.

Erez Liebermann, an assistant United States attorney in the Justice Department’s New Jersey office, said Mr. Gonzalez’s involvement in so many data breaches suggested that “perhaps the individuals capable of such conduct are a tighter-knit group than may have been previously thought.”

Mr. Gonzalez once worked with federal investigators. In 2003, after being arrested in New Jersey in a computer crime, he helped the Secret Service and federal prosecutors in New Jersey identify his former conspirators in the online underworld where credit and debit card numbers are stolen, bought and sold.

But Mr. Gonzalez secretly reconnected with his old associates, federal officials have said, and continued to ply his trade using a variety of online pseudonyms, including Segvec and Cumbajohnny.

According to the new indictment, Mr. Gonzalez and his conspirators reviewed lists of Fortune 500 companies to decide which corporations to take aim at and visited their stores to monitor which payment systems they used. The online attacks took advantage of flaws in the SQL programming language, which is commonly used for databases.

Prosecutors say the defendants created and placed “sniffer” programs on corporate networks; the programs intercepted credit card transactions in real time and transmitted the numbers to computers the defendants had leased in the United States, the Netherlands and Ukraine.

The conspirators tried to erase all digital footprints left by their attacks, according to the indictment.

Heartland, one of the world’s largest credit and debit card payment processing companies, announced in January that its network had been breached but declined to provide many details. The disclosure came during President Obama’s inauguration, which prompted critics to question whether the company was trying to play down the news.

Neither the Department of Justice nor the Secret Service would discuss the investigative breakthroughs in the case. Each defendant faces the possibility of 35 years in prison, and more than $1 million in fines or twice the amount made from the crime, whichever is greater.

Threat Level, a blog run by Wired magazine, reported that Mr. Gonzalez had lived a lavish lifestyle in Miami, once spending $75,000 on a birthday party for himself and complaining to friends that he had to manually count thousands of $20 bills when his counting machine broke.

Richard Wang, manager of SophosLabs, a security company, said the case provided more evidence that retailers and banks needed to strengthen industry standards and encrypt credit card numbers when they are transmitted between computers. Currently, major banks agree to encrypt such data only when it is stored.

Mr. Wang also doubted that the world had seen the last significant theft of credit card numbers.

“I’m not sure how likely it is that they are going to get the Russian co-conspirators,” Mr. Wang said. “Obviously there are still plenty of people with the necessary expertise to pull off these kinds of attacks.” (sumber: NYT)

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.